Sejarah Singkat

Besukkidul, adalah nama sebuah desa terpencil terletak di Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Sebelum PP. Bahrul Ulum didirikan, desa ini dapat dikata merupakan pusat pembiakan kesenian daerah –yang dalam hal ini adalah kesenian Ludruk versi bahasa Madura. Masyarakat desa Besukkidul amat gandrung dengan kesenian tersebut, bahkan bisa dikata tak ada acara kemasyarakatan jika tak menampilkan Ludruk, bahwa Ludruk adalah satu-satunya hiburan rakyat yang paling menyedot seluruh perhatian warga Besukkidul.

Ludruk sebagaimana kesenian pentas lainnya, bukanlah semata hiburan yang dikembangkan demi kesenangan atau hobi masyarakat, tapi dibalik kesenian ini ada sabuah budaya yang melatari-melahirkannya dan terus dilestarikan, bahkan diupayakan menjadi trend life style saat itu. Layaknya dunia hiburan yang kita nikmati saat ini, Ludruk juga melahirkan artis-artis dan idola-idola sebagai ikon-ikon budaya yang bertugas mempromosikan-memasarkan budaya tertentu di balik kesenian Ludruk. Cerita-cerita dalam ludruk yang hampir kesemuanya bercorak mistik –kendati mengandung berbagai nasehat mengarifi kehidupan, misalnya carita-carita yang menggambarkan keistimewaan-kesaktian dan kultus terhadap seseorang, pada gilirannya mempengaruhi kesadaran masyarakat dan membentuk subsistem budaya Besukkidul.Tak mengherankan jika kemudian keberagamaan Islam masyarakat Besukkidul saat itu bercorak dan berkarakter mistik sebagaimana cerita-cerita dalam ludruk, atau bisa disebut Islam Kejawen.

Demikianlah kondisi masyarakat yang dihadapi KH. Anwar Abd. Karim Zamany, Lc di awal pendirian PP. Bahrul Ulum, masyarakat yang amat mengasiki dunia mistik dan kultus sebagai ekspresi keberagamaannya, masyarakat yang kurang menghendaki ritual-ritual formal Islam seperti dipraktekkan para ulama, dan bahkan masyarakat yang terus bertahan (resistent) terhadap hal-hal yang mungkin menggeser superioritas budaya mereka.

KH. Anwar Abd. Karim Zamany, Lc selaku pendiri PP. Bahrul Ulum, berasal dari Desa Sentong Krejengan Probolinggo (sekitar 10-15 km dari Kecamatan Besuk), tempat beliau menerima pendidikan dini keagamaan dari keluarga yang memang sejak mula pertama berjuang mengembangkan pendidikan pesantren. KH. Anwar adalah sosok yang ulet, tekun dan sabar dalam menimba ilmu pengetahuan agama. Konsistensi dalam ber-tholabul ilmi beliau buktikan hingga menamatkan jenjang pendidikan kesarjanaan pada Universitas King Abdul Aziz Mekkah Saudi Arabia. Sejarah berdirinya PP. Bahrul Ulum lantas tidak bisa dipisahkan dari kembalinya beliau dari Mekkah dan awal mula beliau menetap di desa Besukkidul tahun 1985, tepatnya setelah kelahiran putri pertama beliau bernama Khairatul Camalia, dari pernikahan beliau dengan Ny. Hj. Aisyah Nur Syamsi, putri H. Umar Hadi dari desa Alaskandang Kecamatan Besuk.

Kepindahan beliau ke Besukkidul adalah atas dorongan dari Mertua, H. Umar Hadi dan keluarga besar yang pada saat itu juga berkomitmen dalam perjuangan mengentaskan “buta ajaran Islam” dan memudahkan akses pendidikan bagi masyarakat kelas grass root Kecamatan Besuk dan sekitarnya, dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan berbasis Islam, baik tingkat madrasah ibtidaiyah (MI Bahrul Ulum, 1968) maupun tingkat madrasah tsanawiyah (MTs. Syafi’iyah, 1982). Kehadiran KH. Anwar –dengan demikian- diharapkan bisa mengamalkan keluasan ilmu agama beliau bagi pengembangan lembaga, bagi pencerahan masyarakat sekitar yang mengalami krisis moral-spiritual, dan lebih khusus, bagi perjuangan Ilmu dan Islam sebagaimana impian keluarga Besar H. Umar Hadi.

KH. Anwar tentu tidak sendiri dalam perjuangannya. Selain keluarga besar yang senantiasa mendukung, beliau juga dibantu tokoh-tokoh masyarakat Besukkidul dan sekitarnya. Sebut saja H. Syamsul Bahri, H. Sudirman Rais, H. Mushaffa’, Pak M. Ardupin, Pak Miskribin, Pak Syamsul, dan sederet tokoh lainnya yang sama-sama berkomitmen menginfakkan perjuangannya bagi gerakan ilmu dan Islam. Kelompok tokoh masyarakat ini dapat disebut kelompok kreatif yang selanjutnya menentukan sejarah PP. Bahrul Ulum khususnya, dan Yayasan Bahrul Ulum umumnya pada tahun-tahun berikutnya.

Tak bisa dilupakan dalam hal ini, peran penting Ibunda KH. Anwar, Ny Hj. Ruhaniyah (Sentong Krejengan) yang senantiasa memotivasi beliau untuk berjuang mengembangkan pendidikan pesantren. Antusisasme Ibunda tercinta ditunjukkan dengan selalu bertanya kepada beliau –setiap kali beliau sowan, tentang jumlah santri yang dibina-diasuh. Memang sebelum pendirian PP. Bahrul Ulum, KH. Anwar telah membangun musholla kecil di sebelah utara kediaman beliau, sebagai tempat berjama’ah keluarga dan para tetangga yang simpati. Selain itu, beliau juga membuka pengajaran baca tulis Alqur’an bagi putra-putri para tetangga yang pada saat itu hanya berjumlah empat orang. Jumlah tersebut yang selalu KH. Anwar sebut untuk menjawab pertanyaan Ibunda tercinta, dan dialog ini berlangsung hingga tiga tahun lamanya. Artinya, selama tiga tahun KH. Anwar hanya membina-mengasuh empat orang santri, dan ini dimaklumi mengingat kondisi masyarakat besukkidul dan sekitarnya yang kurang memperhatikan pendidikan keagamaan usia dini sebagai kepanjangan tangan dari budaya mistik ala ludruk seperti sebelumnya dipaparkan.

Melihat jumlah santri yang tak kunjung bertambah, suatu saat KH. Anwar pernah meminta pertimbangan Ibunda tercinta untuk sementara waktu meninggalkan pengajaran baca tulis Alqur’an dan beralih profesi memperbaiki perekonomian keluarga, namun keinginan ini tak direstui Ibunda. Dengan didasari keyakinan penuh, sang Ibunda tercinta menasehati. “Kakekmu, KH. Abd. Karim, empat tahun lamanya hanya mengasuh tiga orang santri, bersabarlah karena itu tuntutan perjuangan di jalan Allah SWT, saatnya akan segera tiba.” Demikianlah, nasehat-nasehat Ibunda tercinta senantiasa membasahi hati beliau setiap kali kegelisahan menghampiri, menyemangati dan menguatkan niat beliau mendirikan pesantren.

Perlu disebut juga, peran Camat Besuk saat itu yang lebih akrab dipanggil Pak Kardi. Beliau termasuk tokoh yang berulang kali menyampaikan ide pendirian pondok pesantren di Besukkidul kepada KH. Anwar. Hal ini didasarkan pada keprihatian beliau atas kondisi moralitas masyarakat Kecamatan Besuk, terutama rasa malu beliau yang memangku jabatan camat, sedang diwilayah pemerintahannya terdapat rumah-rumah pekerja seks komersial (sebelah utara PP. Bahrul Ulum sekarang) yang merajalela. Beliau malu campur sedih ketika harus menyampaikan kondisi sosial Besuk di depan teman sesama camat, sebab perhatian mereka langsung tertuju pada rumah-rumah PSK tersebut. Hanya ada satu cara –menurut beliau- untuk menyelesaikan persoalan moralitas ini, yaitu dengan mendirikan lembaga pesantren di dekat lokasi kegiatan PSK, sebagai pusat dakwah Islam dan pembinaan moralitas bagi para generasi muda Kecamatan Besuk.

Tahun 1991 manjadi saksi perubahan fundamental bagi budaya masyarakat Besuk. Pada tahun ini PP. Bahrul Ulum didirikan dan menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan, pembinaan dan pengkaderan Islam, tepatnya setelah pendirian Madrasah Aliyah Bahrul Ulum dan peresmian Bahrul Ulum sebagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan Islam dasar, menengah dan lanjutan atas di desa Besukkidul Besuk Probolinggo. Pendirian PP. Bahrul Ulum tentu tidak bisa mengabaikan peran tokoh-tokoh dan para ispirator di atas.

Selain telah disebutkan, kedekatan kekeluargaan KH. Anwar dengan keluarga besar bani Zamani dan khususnya dengan Hadratus Syeikh Hasan Syaifourridzal, pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo, juga berperan penting bagi terwujudnya PP. Bahrul Ulum.

Seperti dikisahkan, Hadratus Syeikh Hasan Syaifourridzal berulang kali hadir ke Yayasan Bahrul Ulum dan sangat murka melihat plang bertuliskan “Asrama Putra Yayasan Bahrul Ulum”. Beliau sangat menyayangkan jika lembaga sekelas Yayasan Bahrul Ulum tidak memiliki pesantren sebagai benteng moral, sebagai corong syiar Islam untuk mengentaskan krisis moral dan spiritual masyarakat Besukkidul dan sekitarnya. Saran Hadratus Syeikh Hasan Syaifourridzal ini kemudian oleh KH. Awar dikonsultasikan kepada Ibunda dan sesama kelompok kreatif, dilanjutkan dengan rembug bersama keluarga besar H. Umar Hadi.

Sang Mertua yang notabenenya termasuk santri PP. Zainul Hasan Genggong, tanpa ragu dan langsung mengamini saran Sang Kyai. Akhirnya, pembangunan musholla dan rehabilitasi asrama putra di mulai, masyarakat dari berbagai penjuru kecamatan besuk yang peduli berbondong hadir, bahu-membahu membantu hingga terselesaikannya bangunan dan fasilitas asrama. Tidak sampai disitu, mereka juga menitipkan putra mereka untuk menimba ilmu agama dan menjadi santri PP. Bahrul Ulum, dengan KH. Awar Abdul Karim Zamany, Lc. sebagai pengasuh.

Syahdan, KH. Anwar memulai pengajaran agama di PP. Bahrul Ulum dengan dibantu beberapa dari keluarga besar H. Umar Hadi yang sama memiliki background pendidikan keagamaan. Pada tahun-tahun pertama, PP. Bahrul Ulum hanya menerima santri putra dan hanya memiliki satu unit asrama. Namun, oleh sebab desakan dari masyarakat, di mulai pada tahun 1994 PP. Bahrul Ulum menerima santri putri dan membangun satu asrama tambahan untuk menampung berbondongnya santri putri.

Selain pengajaran agama di lingkungan pesantren, komitmen perjuangan ilmu dan Islam juga KH. Anwar buktikan dengan mengadakan pengajian-pengajian umum, shalawatan dan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan lainnya sebagai wahana dakwah Islam kepada masyarakat Besukkidul dan sekitarnya. Bukannya diterima dengan baik, malah beliau sering kali menghadapi cemo’ohan, penentangan dan perlawanan masyarakat yang memang sejak semula sangat resistent terhadap upaya menggeser superioritas budaya mereka. Layaknya perjuangan para Nabi, kediaman beliau bahkan tidak sekali-dua kali dilempari kotoran hewan sebagai bentuk penentengan dan perlawanan masyarakat.

KH. Anwar sadari bahwa perjuangan dakwah Islam selamanya tak akan berjalan mulus, selalu saja akan ada rintangan di tengah jalan. Butuh komitmen, kesabaran, ketekunan, dan kecerdasan emosional tinggi untuk menekuni dakwah islam, atau singkatnya, butuh kemenyeluruhan pengabdian di jalan dakwah. Kesadaran inilah yang seantiasa beliau pegang teguh, hingga menemukan strategi-stretegi dakwah baru yang tepat untuk kondisi masyarakat yang sangat resistent tersebut. Dengan strategi “menokohkan” dan “memfungsikan-memerankan” beberapa individu berpengaruh pada kegiatan-kegiatan sosial-keagamaan yang beliau adakan –sebut saja Pak Maniha, Pak Sana, dan Pak Marwi- KH. Anwar mampu mendekati-meluluhkan hati masyarakat untuk selanjutnya memobilisasi mereka pada ajaran-ajaran Islam, pada keberagamaan dan tradisi Islami, yang pada gilirannya merubah corak dan karakter budaya masyarakat Besukkidul dan sekitarnya menjadi budaya yang tercerahkan.